Kamis, 05 Juli 2018

Cipanas - Nagrak, Kolam Air Panas alami di Parongpong

Cipanas - Nagrak, kolam air panas alami di Parongpong. Liburan ke mana kali ini ? Kami ngga pergi jauh-jauh. Lebaran yang biasanya mudik ke Tasikmalaya ke kampung halaman suami juga ngga. Menikmati Parongpong dan sekitaran Bandung saja. Salah satunya ini, Cipanas - Nagrak. Kolam air panas yang mengandung belerang. Sumbernya berasal dari Gunung Tangkuban Parahu. Sebenarnya tempat ini sudah ada sejak lama. Yang saya ingat, ketika kecil dulu sering diajak Bapak main ke kolam air panas. Letaknya di tengah-tengah kebun gitu. Lewat jalan kecil dan kolam ada dibagian bawah. Ternyata sekarang sudah jauh berbeda penampakannya. Setelah dikelola oleh karang taruna setempat, tempat ini jadi salah satu tempat wisata yang cukup dikenal. Coba deh buka Instagram lalu ketik kata kunci 'Cipanas Nagrak'. Sudah banyak foto yang menampilkan keindahannya.

Sengaja saya berangkat pagi dari rumah, sekitar pukul 7. Diantar suami yang mau berangkat kerja. Naik motor ngga sampai 10 menit sudah sampai. Deket banget kan ya dari rumah saya. Jalan kaki juga sebenarnya bisa. Tapi saya yakin akan terseok-seok karena kondisi jantung yang sudah pernah diotak atik ini. Jalanannya menanjak sampai parkiran. Kalau pulangnya sih jalan kaki masih ngga apa-apa. Jalanan menurun sampai jalan raya, lalu naik angkot deh sampai rumah.

Setelah sampai parkiran, ada papan penunjuk arah kemana kami harus berjalan. Nanti bertemu jalanan tanah seperti ini. Susuri saja, 100 meter kemudian akan sampai lokasi. Itu kelihatan sungai kecil, airnya hangat juga lho. Karena memang berasal dari kolam air panas di ujung sana.


Sebelum masuk lokasi, beli tiket dulu ya. Harga tiket untuk siang dan malam hari berbeda. Disediakan tempat untuk berkemah juga. Saya kurang tahu tuh, harga tiket untuk berkemah itu dapat fasilitas apa saja.


Sepanjang jalan tanah tadi, bakal banyak bertemu tongkat bambu yang digantungi papan seperti yang saya pegang. Ada tulisan untuk seru-seruan aja. Yang saya pegang itu berisi tulisan Jl.in aja dulu, lalu ada juga Jl. Teman Tapi Menikah. Hasil KKN mahasiswa sebuah perguruan tinggi pariwisata di Bandung. Lumayanlah buat foto-foto.


Enaknya datang pagi-pagi tuh kayak gini. Kolam serasa milik pribadi. Anak bujang saya asik aja berendam sendirian. Suhu airpun tidak terlalu panas, benar-benar hangat. Ini kolam bagian bawah. Kolamnya berundak mengikuti kontur tanah. Tinggi kolam ini hanya selutut orang dewasa. Anak-anak masih aman, tapi tetap harus diawasi.


Kolam kedua, diatas kolam pertama tadi. Cakep ya warna airnya. Ini keuntungan lain kalau kita datang pagi hari. Karena menjelang siang, warna air berubah keruh. Kurang tau kenapa. 

Kalau ada rumah terlihat di atas sana, itu karena letak kolam ini memang lebih rendah dibandingkan lokasi perumahan penduduk. Ada di tengah lembah gitu deh.


Nah, ada air terjun di paling atas, kolam ketiga dari bawah. Pusat air panasnya nih. Hati-hati jika berenang di kolam ini, terutama anak-anak. Kedalaman kolam setinggi leher orang dewasa.



Ini kamar mandi untuk membasuh badan setelah berendam. Bayar dua ribu rupiah jika akan menggunakannya. Sementara kamar mandi untuk buang air ada di tempat terpisah, ada di sebelah kirinya. 



Saung-saung ini bisa digunakan pengunjung untuk bersantai, menyimpan barang sementara kita berenang. Atau mau membuka  bekal yang dibawa dari rumah. Kalau ngga bawa makanan gimana ? Tenang, di sekelilingnya banyak warung yang menjual aneka makanan. Jangan takut kelaparan, yang penting bawa uang saja. Ada yang menyewakan tikar juga kalau seandainya tidak kebagian tempat di saung.

O iya, untuk mereka yang mempunyai penyakit tertentu disarankan untuk tidak berlama-lama berendam. Ada papan peringatannya di sana.


Foto ini diambil sesaat mau pulang, kurang lebih pukul setengah sepuluh pagi. Warna airnya sudah mulai berubah. Berbeda dibandingkan foto-foto sebelumnya. Dan sudah mulai ramai juga oleh pengunjung.

Beneran masih alami kan. Dikelilingi oleh kebun warga dan pohon-pohon tinggi. Udara pegunungan yang sejuk, berendam dalam kolam air panas dengan matahari pagi yang belum terik, ah ... 

Berminat main ke sini ? Ini alamatnya :
Kp. Nagrak Rw 16 - Desa Sukajaya - Kecamatan Lembang - Bandung Barat

Letaknya tepat di perbatasan antara Kecamatan Lembang dan Kecamatan Parongpong. Jauh lebih dekat ke Parongpong dibandingkan dari Lembang. Kalau dari Lembang bisa masuk Jl. Kol.  Masturi kurang lebih 5 km. Pakai saja GPS di gawai masing-masing atau GPS yang lain, Gunakan Penduduk Setempat, hehehe.  Dari Jl. Kol. Masturi nanti belok kanan ke daerah Nagrak, kurang lebih 100 meter ke parkiran. Jalannya sudah bagus kok, mobil dan motor bisa masuk.

Kalau dari daerah Cimahi, susuri juga Jl. Kol Masturi, daerah Nagrak ini ada di sebelah kiri.

Yang dari Bandung, bisa lewat Jl. Sersan Bajuri, lalu masuk Jl. Kol. Masturi yang ke arah Lembang. Saya sarankan tanya warga saja kalau sudah keluar Jl. Sersan Bajuri dan masuk Jl. Kol. Masturi. Udah ngga jauh dari sini sih. 

Mudah-mudahan pada ngga nyasar ya. Maafkan jika informasi yang saya berikan kurang jelas. Atau ajakin saya deh, maulah jadi pemandunya. *kayak yang sanggup aja, hehehe.

Jangan lupa untuk menjaga kebersihan ya. Dalam foto-foto yang saya kasih terlihat bersih kan. Masa tega bikin kotor dengan membuang sampah sembarangan. 

12 komentar :

  1. Wah saya dari Gadobangkong deket dong yah ke Parongpong via Kolmas, makasih infonya teh🤗

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya Teh, sok atuh main ke sini. Masuk Kol.Mas tinggal lurus arah Lembang. Sampai daerah Parongpong bisa tanya2.

      Hapus
  2. Saya paling senang ke tempat seperti ini, masih alami.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Yang alami itu beda sensasinya ya Mbak.

      Hapus
  3. Kebayang elok alami panorama sekitar, semoga kalau ke Lembang Parongpong lagi bisa mampir.
    Sy lihat di postingan teman, airnya agak keruh, ooh di pagi hari jernih ke warna tosca ya, tempat Aa Uzan berenang.
    Salam

    BalasHapus
    Balasan
    1. Mudah2an bisa ke sini lagi ya Bu. Kopdarnya di Cipanas Nagrak aja.

      Iya Bu, ada yang bilang keruh, ada yang bilang biru. Dua2nya benar adanya. Entah apa yang mempengaruhi sehingga airnya bisa berubah warna seperti itu.

      Hapus
  4. Ini warisan gunung purba katanya yah. Ada lava-lava cantik yang sudah membeku

    BalasHapus
    Balasan
    1. Bisa jadi, Teh. Karena memang sudah ada sejak lama, tapi jadi tempat wisata baru2 ini aja setelah dikelola pihak setempat.

      Hapus
  5. daerah rumahnya Ibu Dey enak banget ih...itu aa Fauzan enjoy bgt berendemnya..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Alhamdulillah, ayo main ke sini.

      Hapus
  6. Wah bagus ya mbak. Jalannya masih tanah ya? Aku termasuk yg nggak kuat jalan meski badan gede. Ngos2an. Heheee

    BalasHapus
    Balasan
    1. hehehe, ayo saya temenin ngos2annya

      Hapus