Jumat, 18 Juni 2010

Saatnya ikhlas, seikhlas-ikhlasnya

Tulisan ini sebenarnya sudah pernah di publish di FB ibu, mungkin beberapa teman juga sudah membaca dan kasih komentar disana. Tapi ngga apa-apa ya kalau di posting lagi disini ... (sssstttt, alasan aja sih biar ada postingan, hehehehe ...)

24 Juni 2009
, menjelang isya, dokter praktek yang memeriksa kandunganku memberi vonis, bayi yang ada dalam kandunganku sudah tidak bisa diselamatkan, detak jantungnya sudah berhenti. Saat itu kehamilanku memasuki usia sekitar 7 bulan. Innalillahi wainaillaihi rojiun, Ya Allah .. Cuma itu yang bisa terucap dari mulutku dan air mata yang terus menetes. Suamiku yang saat itu duduk disebelahku, sempat terhenyak dan tak bisa berkata. Tapi sebagai lelaki, dia cukup tegar untuk selanjutnya mengurus segalanya. Karena harus malam itu juga aku melakukan operasi Caesar (section caesaria) untuk mengeluarkan bayiku. Tensi yang tinggi tidak memungkinkan untuk persalinan normal. Ah, tensi itu juga yang menyebabkan anakku tak terselamatkan. Ya, aku mengalami Pre-eklamsia, tepatnya impending eklamsia (searching di google aja ya kalau mau tahu lebih jauh soal ini). Salah satu penyebab kematian ibu hamil/melahirkan.

Sambil menunggu salah seorang kakak yang menjemput untuk membawa aku ke Rumah sakit di kota, aku dan suami duduk berdampingan dalam diam, saling menggenggam tangan mencoba saling memberi kekuatan, dengan pikiran yang aku yakin sama. Rasa kehilangan yang amat sangat, melebihi apapun di dunia ini ! Dia, lelaki di sebelahku itu, sempat terlihat menyusut ujung matanya. Aku yakin, dia menangis. Dan itu juga salah satu alasan yang membuat aku makin tak bisa menahan airmata. Maaf ya pak …

Sepanjang jalan menuju Rumah Sakit, yang sibuk berceloteh hanya Fauzan. Dia belum tahu kalau adiknya sudah tidak bisa lagi menendang-nendang perut ibunya, yang biasanya ikut dia rasakan. Yang dia tahu, mau ke Rumah Sakit untuk periksa adik bayi. Sungguh, tidak sanggup mengatakan semua ini kepadanya. Teringat wajah dia yang begitu ceria saat tahu mau punya adik, teringat begitu hebohnya dia saat diajak liat adik bayinya kalau periksa USG, ah ...

Sampai rumah sakit, aku langsung masuk ruang isolasi, ditangani dengan cepat oleh beberapa perawat sambil menunggu dokter kandungannya datang. Entah berapa jarum suntik yang sudah menembus kulitku saat itu. Entah cairan apa saja yang sudah masuk kedalam tubuhku. Selang oksigenpun dipasang dihidungku. Pengukur tekanan darahpun tetap dipasang, karena tensiku harus terus dipantau, begitu juga dengan kondisi jantung dan yang lain. Entah kenapa, sejak masuk ruang isolasi, air mata itu seolah mengering. Yang ada hanya perasaan bahwa aku pasti bisa menjalani ini semua. Selain itu, ingat pesan orang tuaku saat aku pamit untuk operasi ini, berdoa, pasrah … setelah itu, biarkan Allah yang menetapkan hasilnya. Aku yakin, orang-orang tercinta membantu dengan banyak doa.

Seharusnya masuk ruang ICU, itu yang dokter katakan saat dia datang. Tapi ternyata ruang ICU penuh. Tensiku melonjak sampai 200/140, padahal sebelumnya di ruang praktek dokter masih 160/110 (ini juga sudah termasuk tinggi ya..,). Mungkin karena emosiku yang tidak stabil. Alhamdulillah, meski dokter bilang kondisiku darurat, tapi aku merasa kuat. Masih bisa diajak ngobrol (malah ada mahasiswa kedokteran yang sedang praktek, sibuk bertanya-tanya untuk mengisi lembaran kuisionernya), tidak pusing ataupun mata berkunang-kunang seperti halnya tanda-tanda pre-eklamsia pada umumnya. Sempat juga aku titip pesan ke suami, “nanti di nisannya dikasih nama BINTANG ya …”.

Saat itu juga, aku mendengat tangisan keras Fauzan di luar. Dia ingin ikut masuk kedalam, bersama bapak ibunya. Tapi tangisan itu yang malah membuatku harus kuat dan segera sehat. Ah nak, maafkan ibu … sementara tidak bisa menemanimu. Setelah ini, kita bermain bersama lagi ya … Ibu janji.

Tepat pukul 2 dinihari (25 Juni 2009), aku masuk ruang operasi. Semua masih jelas terekam di kepalaku. Karena aku tidak boleh dibius total, jadi hanya bagian pinggang kebawah saja yang kebal. Selebihnya aku masih bisa mendengar dan melihat semuanya. O iya, saat pertama dibaringkan di meja operasi, ujung kesepuluh jariku di suntik cairan, entah apa. Setelah itu, menjalar rasa panas yang sangat ke sekujur tubuhku. Ingin lompat rasanya dari meja operasi dan menyerah saja. Tapi lagi-lagi bayangan Fauzan yang menguatkanku, ya....aku harus bisa menjalani ini semua terutama untuk dia.

Saat proses operasi dimulai, rasa letih fisik menghampiriku. Tapi tidak bisa dan tidak boleh tidur. Tiap kali aku terpejam, segera perawat menepuk-nepuk pipiku, supaya aku tetap terjaga.

Setelah 2 jam berlalu, operasipun selesai, Alhamdulillah. Operasi yang lama untuk ukuran operasi Caesar, karena saat melahirkan Fauzanpun hanya 30 menit saja diruang operasi. Yang sempat aku dengar dari obrolan dokter dan para perawat, ususku sedikit dipotong juga karena ada penempelan. Entah, aku tidak mengerti kenapa.

Baru setelah itu aku bisa sejenak istirah, tapi tetap tidak bisa nyenyak, toh pagipun segera menjelang. Saat adzan shubuh terdengar, aku dipindahkan ke ruang perawatan biasa. Meski seharusnya tetap harus masuk ruang ICU, tapi karena ruangan masih penuh, akhirnya beberapa peralatan dipindahkan ke ruang perawatanku.

Keluar ruangan operasi itu, aku disambut 2 orang lelakiku, suami dan fauzan. Duh, dua orang terkasih yang setia menemani meski harus menahan kantuk dan lelah. Hanya senyum dan lambaian tangan yang bisa kuberikan pada mereka berdua, aku tidak mau terlihat lemah di mata Fauzan.

Kondisiku setelah itu, belum boleh bergerak, harus tetap tidur terlentang, dengan tangan kiri dipenuhi selang infus (ada 3 infusan, seharusnya 4), tangan kanan bagian atas dibalut untuk mengukur tensi, dada penuh tempelan kabel (5 atau 6 atau 7 ya, lupa ..) untuk deteksi jantung dan yang lain. (Ada sih fotonya, tapi kok kesannya lebay ya kalo mau dipajang disini … :D).

Di ruang perawatan, aku minta pada suami untuk di ijinkan melihat jenazah anakku sebelum dibawa pulang untuk dimakamkan. Karena aku pasti tidak bisa mengantarkannya ke tempat terakhir. Semua kerabat yang ada bertanya, “nanti nangis ngga, kalau sampai nangis, ngga usah aja”. Tegas aku menjawab, “ngga akan ada tangis !”.

Tidak berapa lama,seorang bayi laki-laki mungil berselimutkan kain kafan, ada dipelukan tangan kananku. Aku bisa melihat mukanya, bisa mengusap kepalanya tapi tak bisa menciumnya, karena keadaanku yang sulit untuk bergerak. Aku hanya bisa berbisik ditelinganya, “Insya Allah masuk surga ya de’ …”, sudah, hanya itu. Dan aku berhasil memegang janjiku untuk tidak menangis. Sementara ibu mertuaku dan 2 orang kakak iparku yang perempuan yang malah sibuk mengusap air mata. Saat itu juga, aku melihat raut wajah Fauzan di gendongan bapaknya terlihat bingung. Sepertinya tidak ada yang member i tahu dia apa yang sebenarnya terjadi (setelah aku pulang, baru aku tahu dari cerita para tetangga, setiap ada yang datang melayat, dia selalu bilang dengan wajah polosnya itu, “adik aa meninggal”, hiks ..Dan sampai aku menulis ini, terkadang Fauzan masih suka menangis kalau ingat adiknya, sambil bilang,”Aa ngga mau ade’ Bintang meninggal….”. Kalau sudah begitu, aku peluk dia, sambil bilang, “Kita baca Al Fatihah yuk …”)

Hari ini, setahun setelah semua itu berlalu, banyak makna yang bisa didapat. Serasa disintreuk kalau kata orang Sunda, di jewer telinganya, di ingatkan bahwa semua itu ada yang punya. Pun seorang anak. Titipan harta yang nilainya lebih dari yang lain. Kalau Allah berkehendak, semua bisa terjadi.

Kesempatan hidup yang Allah beri kepadaku, membuat lebih bijak lagi menilai hidup. Semua orang punya jalan hidup sendiri, punya cobaan dan ujian sendiri. Dan jika kita yakin bahwa semua itu bisa dilalui (dengan dukungan dan kasih sayang orang-orang terdekat), pasti bisa lebih ikhlas menjalaninya. Selalu bersyukur dengan semua yang sudah didapat, menikmati proses, karena hasil akhir sudah ada yang menentukan. Selalu berharap hal yang baik, tapi juga harus siap menerima hal yang buruk.

Keikhlasan yang membuatku tegar, dukungan orang tua, mertua, keluarga besar dan para sahabat yang membuat aku tetap tersenyum sampai hari ini, suami yang selalu memberi semangat dengan caranya yang tanpa banyak kata, dan yang pasti, Fauzan sumber kekuatan utamaku. Aku harus tetap hidup untuk dia, satu amanah yang harus aku dan suami jaga, menjadikannya bertakwa dan mengantarkannya menjadi orang berguna.

Sekarang, meski punya 1 anak, tapi rumah tidak pernah sepi dengan celotehan bocah, karena hampir setiap hari selalu ada teman-teman Fauzan yang datang bermain. Terkadang mereka berebut minta dibacakan dongeng atau berebut berbagi cerita denganku. Harus selalu sedia banyak cemilan buat dibagi, karena ada beberapa yang dengan polosnya selalu minta kue setiap main ke sini (hehehe, ternyata mereka sudah menganggap rumah ini rumahnya juga …).

Dan yang pasti, sampai kapanpun, BINTANG itu akan tetap bersinar di hati kami, bapak, ibu dan Aa-nya. Insya Allah jika sudah tiba saatnya, kami dapat berkumpul bersama di surga, menjadi keluarga seutuhnya. Amin ..

Aku tulis semua ini, sekedar berbagi, mungkin bisa menginspirasi.
Seperti kata Kahlil Gibran :
Dengarkan kisahku,
dengarkan,
tetapi jangan menaruh belas kasihan padaku,
kerana belas kasihan menyebabkan kelemahan, padahal aku masih tegar dalam penderitaanku


Saatnya Ikhlas, seikhlas-ikhlasnya !


Tulisan ini ikut meramaikan acara Mbak Ketty, "Bingkisan dari Kami"


Maaf ya mbak Ketty, tulisan setaun yang lalu, karena memang cerita ini yang benar-benar menyentuh hati dan amat sangat membawa kenangan/pelajaran buat kami.

Buat Mas Farhan & Adik Razan, selamat bertambah umur ya Nak ... banyak kejadian di dunia ini yang kadang membuat kita menangis, tapi yakin, Allah selalu memberi yang terbaik buat kita.