Senin, 09 September 2013

[Dear Son] Karena Ibu sayang Aa

Buat Aa,

Ibu dapat tugas dari Tante Indah, untuk menuliskan sesuatu tentang Aa dan Ibu. Dan harus di selesaikan hari ini. Hadeuh, padahal kita baru sampai rumah kemarin sore ya. Sejak Jum'at kita pergi-pergi. Tapi  ngga apa-apa, banyak cerita tentang kita berdua. Pasti panjang banget nih tulisannya.

Pada suatu hari .. jeng..jeng .. Hihihi, pasti Aa ketawa baca kalimat ini. Iya, ini kalimat yang biasa ibu ucapkan kalau mau mendongeng buat Aa. Dan Aa pasti terkekeh-kekeh mendengarnya. Hubungan kita memang dekat ya A, sangat dekat. Bagaimana tidak, sejak Aa dalam kandungan sampai detik ini, selalu ibu yang ada di samping Aa.

Ibu memang tidak bekerja sejak usia kandungan Aa berumur 7 bulan. Ibu di rumah, sambil membantu Mbah Kung mengurus Mbah Ti yang memang sudah sakit stroke. Dan memang cita-cita ibu sejak lajang, kalau punya anak ingin di rumah saja. Kalau toh mencari penghasilan, yang bisa dikerjakan dari rumah.

Ibu belum pernah cerita ya A, setelah ibu menjadi pengantin dengan bapak, kami sempat ke dokter kandungan. Karena dokter tahu bahwa ibu mengidap hipertensi, dokternya sempat melarang ibu untuk hamil dulu. Disarankan untuk periksa ini itu dulu ke dokter penyakit dalam. Sepanjang jalan sepulang dari dokter kandungan, ibu menangis. Sedih rasanya harus menunggu untuk mempunyai anak. Saran dokter itu tidak ibu jalani. Ibu cuek aja, sampai akhirnya setelah 7 bulan pernikahan, ibu positif hamil. 

Ibu masih sakit hati tuh sama ucapan dokter kandungan yang melarang ibu hamil dulu, jadi selama kehamilan Aa, ibu ganti dokter aja. Dan memang semua ucapan dokter itu benar sih. Kehamilan ibu beresiko tinggi. Makanya, periksa kandungan pun lebih sering di banding ibu hamil yang lain. Obat-obatan & pantangan makanan juga lebih banyak. Demi Aa, ibu lakukan semua itu.

Sampai akhirnya hari itu datang, ibu harus menjalani operasi caesar untuk mengeluarkan Aa. Karena tensi ibu saat itu 200/140. Berat badan Aa waktu lahir hanya 1,825 kg. Kecil banget. Tapi Alhamdulillah kondisi Aa sehat, paru-parunya sudah sempurna, itu penjelasan dokter anak yang memeriksa. Karena memang kandungan ibu sudah cukup umur, 39 minggu. Kalau badan Aa kecil, itu karena ibu mengidap hipertensi. Plasenta ibu ibarat selang air yang kecil & tersumbat, jadi asupan makanan dan oksigen ke bayi tidak lancar.

Ibu hanya 5 hari saja di Rumah Sakit setelah operasi, tapi Aa belum bisa ibu bawa pulang. Karena badan Aa yang kecil itu, dokter menyarankan untuk di bawa pulang setelah berat badannya naik beberapa gram. Setiap pagi, selama 12 hari, ibu bolak balik dari rumah Bude Anna ke Rumah Sakit untuk memberi ASI. Kalau sore, ibu sibuk memerah ASI untuk bapak bawa ke Rumah Sakit. Tapi berat badan Aa tidak kunjung naik, malah turun. Setelah konsultasi dengan dokter, akhirnya Aa boleh dibawa pulang dengan syarat berat badannya sama dengan saat lahir. Alhamdulillah, setelah hari ke-12, Aa boleh ibu bawa pulang. Di ruangan bayi itu, Aa paling mungil deh. Apalagi di samping Aa, ada bayi yang beratnya 5 kg saat di lahirkan. Aa keliatan makin mungil.

Aa tidak langsung di bawa ke Parongpong, tapi tinggal di rumah Bude buat sementara, setelah itu tinggal di rumah Nenek Jatinangor sampai Aa berusia 35 hari. Semua menyarankan seperti itu, karena kalau pulang ke Parongpong, ibu pasti kerepotan karena Mbah Ti yang sakit. Ibu menurut saja apa kata keluarga. Karena berat badan Aa yang kecil itu, kapanpun ibu selalu memeluk Aa, pun saat tidur.   

Hari ke-35, Aa pulang ke Parongpong di antar oleh Nenek dan Uwa. Saat itu, Mbah Ti terlihat tidur. Ibu hanya berucap, "Ya ibu, cucunya dateng kok malah tidur sih." Tiba-tiba, Aa menangis kencang sekali. Ibu langsung menyusui Aa di kamar. Tidak lama, Uwa mendatangi ibu di dalam kamar sambil bilang, "kok ibu di pegang dingin ya." Maksudnya, Mbah Ti. Deg ... ibu langsung melihat Mbah Ti, dan ternyata .. Mbah Ti meninggal. Sambil mengusap muka Mbah Ti, ibu hanya bisa berucap, "ibu hanya nungguin saya & anak saya ya .." Ibu ngga tau harus menangis atau tidak. Satu sisi ibu sedih kehilangan Mbah Ti, tapi sisi lain ibu punya tanggung jawab yang lebih besar, yaitu Aa yang baru berusia 35 hari.

Dokter yang dipanggil untuk memeriksa Mbah Ti mengatakan kalau Mbah Ti meninggal belum lama. Ibu percaya itu, karena saat ibu datang, masih terlihat & terdengar suara nafasnya di saat tidur. Iya, Mbah Ti pergi setelah menunggu kedatangan kita A, tanpa sempat melihat wajahmu.

Ibu memang tidak boleh bersedih terlalu lama. Ada Aa yang harus ibu urus. Berat badan lahir rendah bukan masalah berkat ASI. Walau ibu akui, ibu menyesal karena sempat memberi Aa tambahan susu formula. Padahal ASI ibu cukup. Ibu memberi susu formula jika melakukan perjalanan jauh. Duh, ini penyesalan ibu, sungguh.

Sambil usia 9 bulan, Aa tumbuh dengan baik, jarang sakit. Tapi setelah itu, Aa sering sekali panas, batuk, pilek, diare. Bolak balik ke dokter. Sempat pula di vonis TB Paru yang membuat Aa harus minum obat selama 6 bulan setiap pagi dan tidak boleh terlewat. Alhamdulillah Aa tidak rewel minum obat itu.

Sampai akhirnya, ibu datang ke dokter anak yang lain. Ibu menolak ketika dokter itu mau memberi obat. Ibu hanya penasaran, sebenarnya Aa sakit apa. Dokter tanya, apa mau check up tapi biayanya mahal. Ibu sanggupi, ngga masalah soal biaya yang harus menguras tabungan. Hasilnya, Aa tidak mempunyai penyakit yang berat, hanya daya tahan tubuhnya yang kurang bagus dan seiring bertambahnya usia, daya tahan tubuh akan  membaik. Ah leganya mendengar ini. 

Itu juga yang membuat ibu cerewet soal makanan. Aa suka tanya kan, kenapa ibu suka melarang Aa makan jajanan yang di beli sembarangan, makan mie instan hanya boleh seminggu sekali, jarang sekali di kabulkan kalau minta es krim dan masih banyak larangan yang lain. Ini alasannya A, ibu ngga mau Aa sakit. Karena Ibu sayang Aa.

Aa anak ibu,

Kita berdua punya sifat yang sama, sama-sama keras kepala, sama-sama ngeyelan, sama-sama cerewet, sama-sama bersuara keras kalau berbicara. Makanya itu, kita sering berbeda pendapat ya, sering banget bantah-bantahan, sering berantem. Tapi kita juga sama-sama mudah tersentuh hatinya.

Walau sering berantem, tetap saja kemana-mana selalu berdua. Aa selalu ikut kemana ibu pergi. Dan ibupun ngga tega meninggalkan Aa. Dan tetap, kalau ada apa-apa, Aa selalu merasa lebih nyaman bercerita kepada ibu dibandingkan kepada bapak.

Dan hanya dengan ibu, Aa punya salam rahasia yang selalu kita lakukan jika Aa akan berpamitan berangkat ke sekolah. Belum lagi ritual mencium seluruh bagian wajah yang kadang membuat bapak jengkel karena jadi menunggu lebih lama jika akan mengantarmu ke sekolah.

Kalau ada yang bertanya ke Aa, apa ibu galak. Pasti Aa menjawab iya. Hehehe, ibu tidak akan membantah deh. Mungkin karena terbawa cara mendidik Mbah Kung terhadap ibu dulu. Meski ibu berusaha untuk tidak mau sekeras Mbah Kung, tapi tetap saja buat Aa mah, ibu teh termasuk galak ya. Kadang suka ditambahin sama Aa, ibu galak sih tapi juga baik. Soalnya suka ngurusin Aa, mau nemenin Aa. Sering banget memeluk ibu sambil bilang terima kasih.

Aa yang bageur, pinter, sholeh,

Maafkan ibu kalau ternyata ada permintaan Aa yang tidak ibu turuti. Salah satunya, memberikan adik buat Aa. Ah, sebenarnya Aa punya adik kan ya. Dan Aa selalu marah kalau ada yang tanya, lalu ibu jawab bahwa anak ibu cuma satu. Aa pasti protes. Iya, ada adik Bintang yang sekarang sudah di surga. Dia memang adik Aa, yang akan selalu Aa sayang sepanjang waktu. 

Cerita tentang adik sudah pernah ibu tulis di blog ini. Kalau ibu hamil lagi, kemungkinan hal seperti itu akan terulang lagi Nak. Nanti setelah Aa besar, Aa pasti mengerti kenapa ibu mengambil keputusan ini.  

Ibu ingat sekali, saat itu umur Aa masih 4 tahun. Setelah ibu pulang dari Rumah Sakit sehabis operasi mengeluarkan adik, Aa sama sekali tidak mau lepas dari ibu. Kemanapun selalu mengikuti. Bahkan saat ibu ke kamar mandi, Aa menunggu di depan pintu. Dan jika ibu agak lama, pasti Aa langsung menggedor-gedor pintu sambil berteriak-teriak memanggil ibu.

Selama tiga bulan Aa seperti itu. Ibu maklum, sangat maklum. Aa trauma. Karena sebelumnya pada saat bersamaan, Aa kehilangan sosok orang-orang yang di sayang. Adik meninggal dunia di perut ibu dan ibu harus menginap di Rumah Sakit selama beberapa hari. Mau ngga mau, bapak yang menjaga ibu. Menitipkan Aa di rumah Bude Anna untuk sementara.

Maaf juga ya A, dua tahun kemudian, lagi-lagi Aa ibu tinggalkan di rumah selama berhari-hari. Karena ibu (lagi-lagi) harus masuk Rumah Sakit. Aa sempat menangis juga, ingin ikut sama ibu. Duh Nak, maafkan ibumu yang ringkih ini.

Di rumahpun, ibu sering sakit ya. Gantian Aa yang ngurus ibu. Tanpa ibu minta, Aa sudah mengambilkan ibu nasi lalu menyuruh ibu makan. Walau kadang, ibu sedang istirahat, Aa tetap saja memanggil-manggil ibu. Hehehe, dasar anak-anak.
Doakan ibu tetap sehat ya, supaya ibu bisa menemani Aa sampai besar. Bisa melihat Aa menjadi orang sukses, orang yang berguna untuk orang lain. 

Mudah-mudahan ibu diberi rasa sabar yang lebih dalam mendidikmu, lelaki kecil ibu yang selalu aktif bergerak, loncat kesana kemari, yang senang bereksperimen. Tapi juga anak yang mudah bergaul, senang berteman, suka membuat celotehan yang membuat ibu geleng-geleng kepala. 

Kejadian-kejadian yang sudah kita alami, apapun itu, harus kita syukuri ya Nak. Jangan pernah sekalipun kamu menjauh dari-Nya.

Ini ada kata-kata yang ibu buat tahun 2010, saat Aa berulang tahun yang ke enam  :

terima kasih ya A Ujan,
yang selalu membuat bapak & ibu terus belajar
tentang kesabaran, tentang keikhlasan
tentang pengorbanan

terima kasih ya A Ujan,
yang selalu memberi banyak warna dalam hidup bapak & ibu
putih, biru, jingga, kadang abu-abu
semua indah dalam satu

maaf,
kalau kami tidak pernah menjadi orang tua yang sempurna bagimu
tapi yakinlah,
kami akan selalu memberikan yang terbaik yang kami mampu
dan percayalah,
doa-doa kami akan ada sepanjang waktu untukmu

semoga hidupmu akan terus memberi banyak arti


Ibu tahu, Aa pasti menitikan air mata saat membaca cerita ibu ini. Terus bilang, makasih ya Ibu. Karena sebelumnya pernah kejadian seperti itu kan, saat ibu menulis tentang Aa di blog ini.

Blog ini memang di buat untuk Aa kok, walau banyak juga tulisan ibu yang rada-rada geje .. :D
---------------------------------------
Harus memilih salah satu teman blogger di grup KEB untuk menuliskan kisah tentang anak laki-lakinya. Hmmm, banyak pilihan nih. Tapi kayaknya yang udah pengen banget nulis adalah emaknya Farras. Ayo mak, di tunggu ceritanya.

83 komentar :

  1. duh,beberapa hari ini dibuat mewek kl baca tulisan emak2 bt anak2nya...tp teh,bageur itu artinya apa ya??hehhe....

    BalasHapus
  2. Ibu...ada air mata meneteees...uuugh, sedih pisan euy. But, seneng ya lihat Aa tumbuh dan berkembang dengan baik. Selalu jaga kesehatan ya bu.

    Kata-katanya menyentuh sekali,

    BalasHapus
    Balasan
    1. aduh, sedia sapu tangan kan ? hehehe..
      Alhamdulillah, Fauzan tumbuh dengan baik.
      Makasih ya ..

      Hapus
  3. Ini kisah yang inspiratif Ibu
    Saya yakin siapapun yang membacanya pasti dapat menarik pelajaran dan perenungan dari sini ...

    Aa Ujan (atau Aa Icat :) )
    Uwak pesen ... tulisan ini jangan sampai hilang ya ...
    simpan tulisan ini ...
    simpan di lemari buku Aa
    simpan di hati Aa ...

    Ibu sayang banget sama Aa ... jangan sampe Aa mengecewakannya ...
    Senangkan hati Ibu selalu ya A ...
    Nanti kalo Aa udah besar ... bikinkan ibu "ruang prakarya" yaaa ...
    yang bagus ... dan jangan lupa ... ruangannya dicat warna biru ama putih yak ...

    Salam saya ...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Semua orang tua jika di minta menulis tentang anaknya, pasti seperti ini Om. Karena menulis setulus hati.

      Makasih uwa, mudah2an blog ini ngga hilang, jadi tulisannya bisa awet dan bisa dibaca sampai nanti.

      Insya Allah, mudah2an ruang prakarya impian ibu bisa terwujud :(

      Hapus
  4. Terima kasih ya Dey sudah mau berbagi cerita tentang kisah kasihmu dengan Aa :)

    Tak salah memilihmu sebagai yang pertama menuliskan #DearSon, membaca cerita ini bikin aku terharu, mau mewek :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sama2 Mak, semoga bisa menginspirasi :)

      Hapus
  5. hehehe... makasih ibu, udah mau melanjutkannya pada ku :)
    Jadi mau nangis bacanya.

    BalasHapus
    Balasan
    1. duh..duh, kok jadi pada nangis sih ..
      ayo di tunggu tulisanmu Mak.

      Hapus
  6. Hik hik... terharu teteeeeeeeeh

    BalasHapus
  7. Setiap ibu punya kisah tersendiri ya, Teh,, kisah kasih dan cara mengasihi sang anak. Terharu membaca surat ini. Aa Ujan sayang,.lihat kan? Betapa ibu sgt menyayangimu? Tumbuh jd anak bageur,.soleh, pintar kebanggaan ibu dan bapak ya, Nak.

    Tante Al jg percaya bgt bhw Aa jg syg bgt sm ibu,.jg Bapak kan? :)

    Trims sdh berbagi ya, Teh

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya mbak dan di setiap kisah para ibu, banyak tersemat rasa sayang buat anak2nya.

      Kata Fauzan : tapi tante Al tau juga kan, kalau ibu itu galak.

      hehehehe ...

      Hapus
  8. Balasan
    1. sudah sedia tissue kan Mak ? hehe..

      Hapus
  9. selalu terharu kalau baca tentang perasaan ibu ke anaknya.. haru mbak... semoga sehat selalu ya dan aa' juga tambah pintar yaa, aminn

    BalasHapus
  10. baca postingan ini bikin mata berkaca-kaca.. perjuangan yang luar biasa untuk melahirkan Aa dan adik bintang...

    semoga sehat selalu mba dey...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Semua ibu pasti punya perjuangan yg sama saat melahirkan anak2nya, begitupun denganmu :)

      Amin, makasih.

      Hapus
  11. aduh ga tau mau ngomong apa...pokona terharu pisan...

    BalasHapus
    Balasan
    1. terharuna ngga pakai nangis kan Mak ?

      Hapus
  12. Senangnya Aa, memiliki Ibu yang betul2 memperhatikan dan sayang sama Aa Fauzan. Aaah, senangnya. Ada ritual mencium seluruh wajah. . . :)

    Semoga Adik Bintang juga bahagia di sana. . ^_*

    BalasHapus
    Balasan
    1. Tante Idah juga punya ibu yang perhatian & sayang kan ?

      Amin , makasih.

      Hapus
  13. mengharukan sekali mak. sungguh luar biasa sekali perjuangannya. salam buat aa ujan ya. dan smg sehat sllu buat mak dey. tulisannya dapat menularkan semangat juang dan kesabaran sekaligus inspirasi jg ni buatku. kebetulan ku jg punya anak lelaki.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Salam balik dari Fauzan katanya.
      Amin, semoga kita semua diberi kesehatan ya..

      Hapus
  14. wah tulisannya sungguh membuat "Manah" ini ingin menangis

    BalasHapus
  15. meleleeeehhh baca posting ini *nyari tisu*

    BalasHapus
  16. Aa Ujan betapa bangganya lahir dari ibu Dey dan menjadi belahan jiwa bunda. Terima kasih Jeng sungguh menginspirasi merekat hati bunda dan jagoannya. Salam

    BalasHapus
  17. mewek aku, mbak. apalagi dibagian akhir itu.. hiks,,,
    semoga dirimu sehat terus.. amin,

    BalasHapus
    Balasan
    1. Amin, semoga kita semua selalu diberi kesehatan ya ..

      Hapus
  18. Suatu hari kalau Aa besar dan membaca lagi tulisan ini pasti bersimbah air mata, Mbak Dey. Menyentuh sangat :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ngga usah nunggu dewasa, kemarin waktu baca tulisan ini, Fauzan sudah bersimbah air mata, hehehehe. Dia anak yang mudah tersentuh hatinya Mbak ..

      Hapus
  19. subhanallah bener2 menyentuh banget tulisannya. Jadi bikin mewek Teh...
    Semoga Aa selalu menjadi yang terbaik untuk Ibu :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Amin, begitu juga dengan Samara ya ..

      Hapus
  20. Jujur mbak..saya tidak baca semua..karena mbak pernah ceritakan hal itu dan cerita mbak membuat hati saya tertohok, dan kalau saya baca tuntas artikel ini...takutnya saya lebih tertohok..ini saya perasaan udah gimana gitu....

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya ya, hampir semua cerita yang aku tulis ini sudah pernah aku ceritakan padamu.
      Dan akupun tertohok, kalau ternyata Bli masih ingat dengan cerita ini, hehehehhe ...*secara dirimu kan sangat cuek & pelupa :D

      Hapus
  21. Aku terhanyut dan mengingatkan ku dengan almarhumah Ummi..... T-T Semoga Allah memebri tempat yang terbaik untuk kedua Ortu ku... amin..


    Kumaha ?? Damang bunda ?? *sok pake sunda* :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Amin, semoga Ummi mendapat tempat terbaik disana.

      Alhamdulillah sae, mana atuh oleh2 keliling negara tetangga ?

      Hapus
  22. Aa... perjuanganmu untuk bertahan dg berat lahir di bawah 2kg itu hebaat. Untun ada ibu yg sangat mencintamu.. pasti bahagia dan bangga punya ibu seperti ibumu ya nak... :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Alhamdulillah, emang rada deg2an juga sih ngeliat Fauzan yg kecil mungil itu.

      Hapus
  23. Semoga Mbak Dey bisa menemani Aa sampai besar dan bisa melihat Aa menjadi orang sukses, orang yang berguna untuk orang lain. Aamiin.. :)

    BalasHapus
  24. terharu bacanya, ga nyangka ya, Aa' yg dulu kecil mungil bisa tumbuh jadi anak yg pintar.
    ALfi yg lahir 2,5 aja udah bikin kami berkecil hati, apalagi ibu dey dulu ya?

    Semoga Aa jadi anak sholeh amin

    BalasHapus
    Balasan
    1. Alhamdulillah, Insya Allah Alfi pun akan tumbuh jadi anak sehat & pintar di tangan mbak Tary.

      Hapus
  25. Subhanallah...sungguh menghanyutkan mak...
    semoga Aa' sehat selalu, juga ibunya...

    BalasHapus
  26. Subhanallah...sungguh menghanyutkan mak...
    semoga Aa' sehat selalu, juga ibunya...

    BalasHapus
  27. Artikel yang sangat so sweat sekali nih, terharu sekali saya membacanya.

    BalasHapus
  28. kyaaa... baru baca dan berkaca-kaca..
    yg penting skrg si ibu sehat yaah...

    BalasHapus
    Balasan
    1. hush, ngga boleh nangis :P

      Amin, mudah2an selalu sehat.

      Hapus
  29. Ahhhhhh urang sunda, ternyata saya belum mampir ketemu AA yang hebat satu iniiii..

    semoga suatu saat AA bisa ketemu Aa zidan ya

    BalasHapus
    Balasan
    1. iyaaa, kapan atuh bisa ketemu ya. Biar Aa Ujan main bareng Aa Zidan.

      Hapus
  30. Balasan
    1. *siapin kulkas biar beku lagi .. hehe

      Hapus
  31. Perjalanan menjadi ibu selalu punya banyak cerita. Dan tiap cerita ada sesuatu yang sulit dikatakan, anya bisa di aasa. Thx utk catatannya. Kalau sempat mampir yah: http://pedas.blogdetik.com/2013/09/13/sepucuk-surat-lagi-untukmu-matahari-kehidupanku/

    BalasHapus
    Balasan
    1. Yup mak, bener banget.

      Sudah mampir Mak, ntar komennya ya ..

      Hapus
  32. kasih sayang ibu memang sepanjang masa

    BalasHapus
  33. Anak-anak memang selalu penuh cerita. Semoga Aa menjadi anak sholeh dan sukses. :)

    BalasHapus
  34. Ibuuuuu...reumbay ini mah Orin bacanyaaaa huhuhuhuhu
    Aa Ujan, sehat terus, pinter, dan sholeh selalu ya, Nak *ketjup*

    BalasHapus
    Balasan
    1. ngabayangkeun Orin ni reumbay , hehe

      Hapus
  35. Bagusss Dey, surat buat Fauzan ini bagussss banget!
    Saya sampe merinding bacanya, terharu juga ngebayangin betapa Eyang Putri berpulang saat kedatangan Dey dan Fauzan ke rumah...ah, smoga Eyang Putri diberi tempat terbaik disisi-Nya.
    Aamiin.

    Ehm, kalo Fauzan makan seblak basah boleh nggak, Dey?
    :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aihh, belum saya balas komentar mbak Irma ini. Gara2 postingan ini ada di blog Om NH, jadi keliatan kalau belum di balas. Punten ya mbak.
      Amin, makasih doanya .

      Fauzan mah ngga suka seblak, dia lebih memilih cireng, hehe

      Hapus
  36. Such a sweet boy ^.^ Sehat terus Aa, biar bisa selalu jaga Ayah Ibu & adik :)

    BalasHapus
  37. Lha, aku belum komen ya tentang postingan ini:(
    Selalu suka dengan tulisan Dey, terutama yang ini bikin mewek :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Udah kok Mak, itu ada komentar di tanggal 9 Desember :)

      Hapus
  38. aku terlewat juga ya yang ini....
    lihat aa yang sekarang super aktif nggak nyangka dulu BBLR ya...
    terharu lagi baca ini sama terharunya waktu dulu baca tentang adik Bintang,
    ya postingan itu yg mengenalkan kita

    insya Allah ibu bisa mendampingi AA tumbuh dewasa aamiin

    BalasHapus
    Balasan
    1. Makasih mbak, masih inget aja postingan itu :)

      Iya, siapa yang nyangka kalau Fauzan yang susah diam itu dulunya BBLR. Alhamdulillah.

      Hapus
  39. Semoga bu dey selalu sehat terus ya.. :)
    terharu baca2 kisah ibu seperti ini :)

    BalasHapus
  40. Beberapa kali ketemu AA yang menyenangkan dan pintar
    Semoga selalu sehat
    Salam hangat dari Surabaya

    BalasHapus
  41. Meluncur dari postingan Om Nh:
    every Mommy is hero for her kids...dan Mbak Dey membuktikannya.

    #saya belum apa-apa jk merujuk status Ibu yg saya dapat saat ini

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sama aja kok mbak, menjadi pahlawan tidak harus buat anaknya sendiri. Tapi bisa buat anak2 yg lain :)

      Hapus
  42. terharu banget baca ini mbak dey,, semoga suatu saat bisa merasakan indahnya jadi ibu..:)

    BalasHapus