Kamis, 11 Oktober 2012

Cara Mencegah dan Menanggulangi Tawuran

Miris ya kalau mendengar dan membaca berita di media yang sedang ramai saat ini, tentang tawuran remaja (anak sekolah) yang sampai menelan korban jiwa. Apalagi saat salah satu pelaku yang menyebabkan tewasnya korban merasa puas dan tidak menyesal telah melakukan kekejaman itu. Duh ... bagaimana ya cara mencegah dan menanggulangi tawuran itu.

Tawuran memang tidak hanya terjadi di kalangan remaja saja. Banyak juga berita tentang tawuran antar kampung, yang melibatkan orang dewasa. Tapi sebagai orang tua, ibu hanya akan menulis pendapat tentang tawuran antar sekolah. Perlu di ingat, semua yang di tulis disini adalah pendapat pribadi... :-)


Menurut ibu, anak sekarang ini rasa ke-aku-annya tinggi sekali. Bisa dilihat dari permainan yang mereka mainkan. Anak-anak sekarang lebih senang bermain permainan di komputer, telepon seluler atau gadget masing-masing. Yang mana semua itu hanya memerlukan sedikit interaksi dengan teman-temannya. Rasa tenggang rasanya kurang sekali. Permainan di gadget itu kan hanya memuaskan diri sendiri tanpa memikirkan orang lain. Yang penting kita menang.

Jadi, cara mencegah dan menanggulangi tawuran bagaimana ? Ini adalah tanggung jawab bersama, antara orang tua (keluarga), lingkungan, pemerintah (sekolah).

Memang tidak mudah, tapi setidaknya bisa kita mulai dari rumah. Mendidik anak memang tidak bisa disamakan dengan saat kita kecil dulu. Seperti kata salah seorang sahabat Nabi Muhammad SAW yang mengatakan, "didiklah anakmu sesuai jamannya, karena mereka hidup bukan dijamanmu."

1. Pendidikan akhlak, budi pekerti. Semua ini pendidikan yang dimulai dari rumah. Sering melihat, anak sekarang itu selalu sibuk dengan telepon selulernya. Jalan melewati orang tua juga cuek saja tanpa basa basi.

2. Bukan berarti kita menjauhkan anak-anak dari komputer, telepon seluler dan lain sebagainya. Mereka harus bisa menggunakan itu semua. Tapi bagaimana caranya agar penggunaannya itu bisa baik dan benar. Tanpa melupakan bahwa kita adalah makhluk sosial yang perlu berinteraksi dengan sesama. Orang tua sekarang tidak boleh gaptek (gagap teknologi).

3. Menyediakan waktu berkumpul bersama anak, mau mendengar cerita/keluhan anak tanpa emosi berlebih. Agar anak merasa nyaman dan betah di rumah. Kalau belum apa-apa kita sudah marah, anak malah merasa menjadi terdakwa. Pelampiasannya bisa di luar rumah. Bisa jadi malah ikut tawuran.

4. Banyak-banyak berdoa, semoga anak-anak kita dijauhkan dari tawuran dan segala keburukan. Karena sering juga kejadian, mereka yang tidak terlibat tawuran malah menjadi korban. Kalau seperti ini, sudah urusan Sang Pemilik Hidup.

Buat pemerintah, 

1. Sediakan banyak lahan bermain gratis. Jangankan di kota besar, di Parongpong saja, sudah mulai berkurang tempat bermain untuk anak-anak. Tempat wisata yang menyediakan fasilitas bermain sih banyak, tapi untuk masuknya kan harus bayar, mahal pula.

2. Kurikulum pelajaran sekolah di kurangi. Melihat anak sendiri yang baru kelas 2 SD dengan beban pelajaran di sekolahnya sudah cukup membuat geleng-geleng kepala, apalagi mereka yang sudah SMP / SMA ya. Apalagi jika dibebani dengan nilai yang harus bagus. Sementara tidak semua anak  mempunyai prestasi akademik yang sama. Dan tidak semua harus dinilai dengan angka.

Ada yang mau menambahkan ?

Artikel  ini diikutsertakan pada Kontes Unggulan Indonesia Bersatu

Indonesia Bersatu

31 komentar :

  1. Mlipiirrr...
    #makin menciut lagi hatikuu..

    Sepakaat , pokoknya balik lagi peranan orang tua di rumah adalah dasarnya ya teh, semoga anak2 kita kelak di jauhkan dari hal2 yang menyangkut tawuran..

    Sukses deh ngontesnya..
    #makin mojok, makin ga ada ide, makin ngeper

    BalasHapus
    Balasan
    1. amin ... mudah2an bisa menjadi orang tua yg bisa menjadikan anak2nya tdak terlibat tawuran ...

      Hapus
  2. Sama dengan Teh Nchie Hanie, hal yang penting untuk mengatasi masalah ini memang dimulai dari rumah, lalu pemerintah juga harus berperan aktif. Dengan demikian, tawuran semoga dapat dicegah dan ditanggulangi.

    Semoga suksesnya ngontesnya ya Teh Dey.

    BalasHapus
    Balasan
    1. amin , intropeksi buat orang tua juga ya pak ..

      Hapus
  3. Terima kasih atas partisipasi sahabat.
    Salam hangat dari Surabaya

    BalasHapus
  4. Aku-aku-aku mau nulis apa? bingung :(

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kalau bingung, pegangan dulu aja .. hehe

      Hapus
  5. hampir semua tips dimulai dari rumah ya. semoga menang bun, jangan lupa traktiran cilok hehehe

    BalasHapus
    Balasan
    1. mau cilok, cireng, cimol, cidog, apa aja deh .. siaplah ..

      Hapus
  6. Setuju banget mbak soal kurikulum itu...Kasian banget deh sama anak sekolah jaman sekarang, apalagi karena kecerdasan jadinya cuma dinilai berdasarkan nilai mata pelajaran saja, membuat anak yang punya kecerdasan seni atau olahraga misalnya jadi terlihat 'kurang' :(

    BalasHapus
    Balasan
    1. Semua dinilai berdasar angka di raport .. :(

      Hapus
  7. Tuh mainan anak yang banyak... biar bisa ada tempat beromantisannya banyak.. jadi jangan belum apa apa sudah main jotos aja...

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya mas, tanah lapang buat main skr makin berkurang ..

      Hapus
  8. setuju dengan bunda dey :)

    http://febiola-febby.blogspot.com/

    BalasHapus
  9. SANGAT bERMANFAAT MBAK.. MAKASIH YA: )

    BalasHapus
  10. wah bener banget mbak pendidikan akhlak dan budi pekerti...setuju dengan gadget yang diutarakan mbak dey..anak anak jadi asik dengan dunianya sendiri,kurang empati dan sosialisasi dengan lingkungan...sukses kontesnya yah mbak dey..:)

    BalasHapus
  11. Hai Bu Dey,
    Saya nggak ngerti bagaimana hubungan menjauhkan telepon seluler/komputer dengan mencegah tawuran. Sebagian besar pelaku tawuran di desa-desa di Indonesia tidak punya cukup pulsa untuk pakai telepon seluler, sebagian besar tidak punya komputer di rumah, dan sebagian besar desa masih belum terjangkau warnet. Tapi mereka masih juga tawuran antar kampung (meskipun memang itu tidak diekspos media massa karena mungkin dianggap bukan berita yang menarik). Saya rasa barang-barang elektronik itu tidak ada hubungannya dengan pencegahan tawuran, Bu Dey.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Maaf mbak, bisa dibaca lagi, saya tidak menuliskan pendapat tentang tawuran di desa2. Saya hanya menuliskan pendapat pribadi tentang tawuran anak sekolah.
      Dan saya tulis pula, bukan berarti menghindari alat2 tersebut, tapi bagaimana caranya agar penggunaannya baik & benar.
      Berbeda pendapat tidak apa2 kan mbak .. :)

      Hapus
  12. jangan biarkan anak terbiasa dengan kekerasan..y o A

    BalasHapus
  13. wah miris liat banyaknya dampak negatif akibat terjadinya tawuran ini apalagi sampai kehilangan nyawa. Semoga tawuran bisa berhenti... sukses buat GA nya.

    oh ya,
    saya ngadain kontes menulis berhadiah kecil2an nih, infonya bisa dilihat diblog saya.
    Ditunggu partisipasinya ya. :)

    thanks
    carameninggikanbadancepatalami.blogspot.com

    BalasHapus
  14. Hari sumpah pemuda telah berlalu, komentarku untuk artikel di atas mengenai peristiwa tawuran yg melibatkan pemuda-pemudi berstatus pelajar pun kunjung datang,,
    Saya berharap hari peringatan sumpah pemuda ini dapat mengetuk para hati pemuda-pemudi di Indonesia (apapun statusnya)..

    BalasHapus
  15. waduhh , STP dch yang namanya TAURAN !!

    BalasHapus
  16. fenomena ikan cupang,bertemu sejenis walau gak kenal maunya ngadu ilmu. jadi hati-hati menitipkan anak2 pada guru yang mengajarkan kesaktian yang berkedok agama untuk jaga diri katanya....malahan ketempelan jin yang suka tawuran dan narkoba.

    BalasHapus
  17. iya ya ,, aneh ,, kok pada suka ya tawuran ? lebih baik lakukan sesuatu yang lebh bermanfaat lagi ,,

    BalasHapus
  18. negara sudah merdeka kok masih saja tawuran ya ,, ?? seharusnya mereka bisa melakukan sesuatu yang lebih baik lagi ..

    BalasHapus
  19. Artikel yang sangat bagus ijin nyimak nih gan.. :)

    BalasHapus